Untukmu yang Menghancurkan Hatiku Menjadi Butiran Debu. Ini Aku yang Baru!

Detik berlalu dan detak jantung bertalu-talu. Malam kini menjadi musuh terbesar bagiku. Di setiap derap langkahku masih kurasakan senyum manismu. Masih terbayang dengan jelas di benakku, bagaimana setelah bertahun-tahun yang kulalui bersamamu, ternyata aku hanya menjadi sebuah opsi, bukan pilihan pertama. Ibarat permainan sepakbola aku hanya seorang pemain cadangan, bukan pemain utama apalagi bintang lapangan di hatimu.

kisah cinta pilu ditinggal nikah

Pontang-panting aku bertanya,”Apa Salahku?” dan “Apa yang kurang dariku?” Hingga membuat kini kau pun berlalu. Sampai hati kau pergi meninggalkanku, dirundung sepi. Bertahtakan sunyi.

Kamu sempat menjadi alasanku menunda mimpi. Karena bagiku kau sendiri adalah impian, mimpi terbesarku. Pernah aku menghancurkan rencana hidup yang kugadang-gadang sendiri hanya agar bisa selalu dekat denganmu. Lalu kini, mengingat kau berjalan di dua hubungan sekaligus – mempertahankanku, sementara hubungan lain kau jalani terus – membuat hati ini merelai. Sungguh, hati ini sempat tercerai-berai.

Untunglah, aku bukan pemurung yang akan hangus. Kusadari aku cukup tangguh. Buktinya aku berhasil mengatasi semua rasa pilu ini meski penuh peluh dan nyeri di sekujur tubuh. Susah payah aku merangkak dari memori indah yang pernah kau rekatkan dalam hidupku tuk bisa melupakanmu. Bahkan sebenarnya aku tak bisa lupa, hanya saja rasa itu kini sirna.

Kelak saat kita bertemu lagi, entah kapanpun itu, kau akan tetap mendapati senyuman tersungging di wajahku ketika melihatmu. Hati ini sempat kau tikam – hampir saya mati terbunuh. Rasa cinta itu sempat melambung sebelum kau hempaskan hingga raga ini hancur sampai ke pembuluh. Tapi tenang! Telah kutunjukkan kalau aku tak mati lantaran kau bunuh.

Jikalau suatu saat nanti kita bertemu, tolong singkirkan pikiranmu jauh-jauh tentang kenapa aku bisa sedingin itu kepadamu. Harusnya kamu sudah cukup tahu diri. Kamulah yang membuat diri ini menghantam dunia dalam kondisi rapuh, hingga detak jantung serasa meluruh. Sampai tubuh ini punya kekuatan untuk memperbaiki diri dan kembali menata hati.

Barangkali kita memang butuh jatuh, untuk tegar berdiri.

Mungkin kita memang perlu hancur, untuk dapat mengerti.

Tak pernah ada luka yang tak dapat diobati.

Luka pun mampu sembuh sendiri.

Jujur saja, tanpamu aku pernah mengutuk diri sendiri. Meratapi kesalahan pribadi apa yang membuat kau memutuskan untuk pergi. Menetes air mata ini mengenang kepergianmu, wahai mantan kekasih. Hidup terasa hampa, kosong seperti hidup di luar angkasa. Tanpa udara, yang ada hanya derita. Tapi aku akhirnya sadar, tak perlu menyalahkan diri sendiri. Toh, aku sudah berusaha memberikan yang terbaik dari yang bisa pria tawarkan kepada kekasihnya. Aku berusaha setengah mati agar wanitaku tak pergi.

Namun memang kaulah yang tak mencukupkan diri. Selalu merasa ada yang kurang dari hubungan ini. Merasa harus mengikuti kata dalam hati, tanpa terpikir ada hati kecil yang tersakiti. Saya tak ingin mendoakan hal buruk padamu agar bencana menghampiri. Aku sudah cukup bersyukur Tuhan mempertemukan kita, untuk kemudian kita jalan sendiri-sendiri.

Tapi, sadarilah. Jika kamu meninggalkanku begitu cepat dan mudah sekali. Jangan heran kalau rasamu kali ini akan cepat pudar dan mati seperti kembang api yang indah namun cepat berlalunya.

Aku menulis ini bukan perkara benci. Bukan pula lantaran ingin melampiaskan dendam di hati. Jauh dari urusan bagaimana kau menginjak harga diri. Malah karena perlakuanmu yang seenak jidat dan sesuka hati membuat aku menyadari perlakuan apa yang pantas aku dapat dan beri. Terima kasih kau telah ajarkan aku cara menghargai diri sendiri.

Sejak kau tinggalkan diri ini, hati ini tak pernah utuh lagi. Ada sebagian yang hancur, remuk, dan rapuh. Meski demikian, tetap dengan tegas, aku minta kau untuk menjauh.

Sebab dirimu bukanlah seseorang yang aku ‘butuh’. Bukan pula sosok yang ingin kupertahankan mati-matian agar kau tak terserang jenuh. Bukan juga seseorang yang ingin kubagi cerita dan impian dalam hidup. Dengan segenap keridhoan hati, aku mencoba ikhlas membiarkan serakan kenangan itu menghantam dan terjatuh. Kisah perjalanan kita yang seperti kertas keriting lantaran perlakuan buruk dan sikap menduamu itu sudah aku buang jauh-jauh.

Saat nanti kita bertemu, dan bila dalam hatimu kau merasa tak mengenali aku lagi. Sekali lagi, aku mohon untuk sadar diri. Tak perlu kau heran kenapa aku jadi seperti ini. Sebab kaulah orang yang memporak-porandakan hati ini hingga tak ada yang tersisa lagi. Tolong tahu diri!

Sekarang, tolong berkemaslah dan pergilah menjauh. Karena hati dan jiwa ini bukan milikmu lagi, bukan tempatmu untuk kembali. Keluarlah! Pintu sudah terbuka lebar dari tadi.

Aku minta kamu pergi

Leave a Reply