Heboh, Mahasiswa Unsri Kena Tonjok Polisi Saat Demo UKT

mahasiswa unsri kena tonjok, mahasiswa unsri ditonjok polisi

Dedi Satria, Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sriwijaya (Unsri) jadi bulan-bulanan aparat. Dedi tampak ditangkap dan dipukuli oleh beberap aparat kepolisian. Peristiwa tersebut terjadi saat mahasiswa melakukan aksi unjuk rasa menuntut penurunan biaya Uang Kuliah Tunggal (UKT) bagi mahasiswa semester 9 dan juga meminta pengaktifan kembali akun sistem akademik ketiga rekan mereka, Kamis (3/8).

mahasiswa unsri kena tonjok
Dedi Satria, Mahasiswa Unsri Kena Tonjok Polisi

Dalam video yang beredar, Dedi Satria dibawa petugas ke sebuah ruangan di lantai dasar rektorat Unsri. Sembari dibawa, beberapa polisi baik yang berseragam maupun mengenakan pakaian biasa memukuli Dedi. Hingga berita ini dibuat belum ada keterangan resmi dari pihak-pihak terkait, baik dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unsri, rektorat maupun kepolisian sendiri.

Dari keterangan beberapa mahasiswa, dikatakan bahwa massa aksi tertahan di luar pintu rektorat. Pihak rektorat mengunci semua pintu dan tidak berkenan menemui massa aksi. Hanya dua pintu yang bisa dibuka yaitu pintu kanan dan kiri.

Ketika itu, Dedi Satria juga salah satu menteri BEM UNSRI yang diutus untuk berdialog tertahan untuk kembali bersama massa aksi. Akhirnya dirinya dan beberapa temannya nekat membuka pintu sebelah kanan yang sudah ditunggu oleh massa aksi. Saat itulah dirinya ditarik dan dipukuli oleh petugas.

Selain Dedi, Agus Rianto juga ikut diamankan oleh petugas kepolisian. Saat ini, massa aksi sedang mengkonsolidasikan diri dan memanggil teman-teman mereka yang ada di kos untuk bergabung membebaskan dua teman mereka yang ditahan.

Unsri Membara Ribuan Mahasiswa Demo Tuntut Tiga Rekannya Diaktifkan

mahasiswa unsri ditonjok polisi

mahasiswa unsri ditonjok polisi

Ribuan mahasiswa Universitas Sriwijaya (Unsri) semakin menjadi jadi, melakukan penuntutan pengaktifan kembali tiga mahasiswa yang dibekukan statusnya.

Kali ini massa aksi lebih banyak lagi mengempur gedung restorat supaya tuntutan mereka dipenuhi oleh rektor, Kamis (3/8/2017).

Mereka menuntut kepada pihak rekrorat agar menurunkan UKT semester sembilan 50 persen, menurunkan UKT bidik misi ke level satu, memberikan transparansi UKT, menghentikan tindakan represif rektorat dan mengaktifkan kembali tiga akun akademik.

Ribuan mahasiswa terus bergerak menyampaikan orasi dan meringsek masuk ke dalam kantor.

Beberapa kaca pintu kantor juga terlihat pecah.

Ratusan aparat kepolisian pun disiagakan untuk mengawal berlangsungnya aksi protes terhadap UKT.

Presma Unsri: Jika Hati Pimpinan Unsri Tak Lagi Bisa diketuk, Biarlah Saya Mengetuk Pintu Langit

demo mahasiswa unsri polisi

demo mahasiswa unsri polisi, presma unsri

Rahmat Farizal, Presiden Mahasiswa (Presma) Universitas Sriwijaya (Unsri) yang datanya dihapus oleh kampus buntut dari menggerakan aksi massa angkat bicara. Dirinya mengklarifikasi semua tuduhan yang dialamatkan kepadanya.

Rahmat Farizal dikatakan telah melakukan tindakan dan perbuatan yang mengorganisir kegiatan demonstrasi dengan cara penyampaian dan materi yang mengandung unsur-unsur seperti pengujaran kebencian terhadap rektor, mengancam untuk membakar aset negara, mempermalukan Rektor dan Senat Unsri dalam acara resmi dan melakukan pelanggaran hukum/undang-undang dan etika. Padahal menurutnya, dirinya hanya menyampaikan pendapat dan aspirasi mahasiswa.

Dia juga menyayangkan sikap rektorat yang menghadiahinya laporan ke polisi. Farizal bahkan mengatakan kalau hati pimpinan Unsri sudah tidak bisa diketuk maka dia akan ketuk pintu langit untuk meminta keadilan.

Berikut penjelasan Rahmat Farizal seperti yang redaksi seputarmusi terima:

 


Assalaamu’alaykum. Wr. Wb.

Melalui pesan singkat ini saya ingin menyampaikan kepada rekan-rekan sekalian yang boleh jadi terkejut dengan berbagai berita yang bersliweran di berbagai media.
Dan saya akan coba jelaskan sedikit kepada teman-teman.

1. Saya mengucapkan sebuah kebanggaan yang luar biasa kepada seluruh punggawa BEM KM UNSRI yang kemarin telah mempersembahkan yang terbaik untuk menyambut RIBUAN MABA 2017 dengan penuh Keikhlasan dan jujur PK2 tahun ini adalah yang terbaik selama 4 tahun saya di kampus, dan sms apresiasi pun mengalir di WA. Meskipun Apa yg telah Kita persembahkan tidak di lihat sedikitpun oleh rektorat sebagai upaya Kita memberikan yang terbaik untuk Maba 2017.

2. Banyak yang mengatakan untuk apa memperjuangkan UKT padahal mahasiswa unsri sendiri pun tak merasa di perjuangkan. Maka saya jelaskan bahwa Dalam perjuangan pasti ada Pro dan kontra, namun Kita tidak selayakny memperdebatkan Karena yang seharusnya Kita lakukan adalah menyelmatkan mahasiswa Klo 2013 merasa tidak mau di perjuangkan, maka perjuangan ini juga utk mahasiswa angkatan 2014 ke bawah.

3. Ada banyak bersliweran di media. Salah satunya ini.
https://m.detik.com/news/berita/d-3583893/ancam-bakar-gedung-presiden-bem-unsri-dipolisikan-wakil-rektor
Maka dengan tegas saya katakan ini tidak BENAR. Silakan cek sosmed pribadi saya @rfarizal95 atau @bemkmunsri @unsripeduli_ukt adakah yang saya sampaikan mengancam utk merusak fasilitas kampus.

Bahkan, Aksi Damai yang mahasiswa lakukan selama tiga kali, Sampah air Minum pun kami bersihkan sendiri, dan hari ketiga mahasiswa melakukan Yasinan Bersama. Maka tidaklah mungkin saya akan  merusak kampus sendiri apalagi mengancam seperti pemberitaan di atas.. Dan Semoga pihak media segera mengklarifikasi.

4. Terimakasih utk seluruh Mahasiswa Fakultas Teknik atas Solidaritas nya, turun ke jalan meminta hak kita sebagai Mahasiswa dan di ikuti juga oleh seluruh fakultas. Terimakasih Keluarga Mahasiswa Sriwijaya.
Aksi besok adalah saksi gerkanan mahasiswa tidak akan bisa di bungkam.
Teman, UKT adalah sistem yang perlu Kita sama-sama evaluasi Pelaksanaan nya.
Dan saya dengan tegas mengatakan eskalasi yang mahasiswa lakukan sudah sesuai prosedur Karena Mahasiswa telah melaksanakan 4 kali audiensi resmi dan berkali2 membuka omongan non formal kepada Rektor terkait UKT.

Jika Perjuangan saya dan teman-teman mahasiswa Menuntut penurunan UKT di hadiahi pelaporan ke polisian dengan tuduhan yang tidak saya lakukan.
Maka Semoga Allah swt memberikan jalan terbaik.

Karena jika pintu hati Pimpinan Unsri sebagai Pemimpin tertinggi di kampus ini tak lagi bisa di ketuk, biarlah saya mengetuk pintu Langit meminta kepada Sebaik-Baik Pemilik Ketetapan.
Semoga tidak ada lagi Mahasiswa yang menjadi korban dalam memperjuangkan Hak mahasiswa.
Ini hanya sepenggal saja, karena semua nya tidak bisa di jelaskan melalui pesan ini.

Terimakasih.
Salam Cinta.
Rahmat Farizal. (Presma Unsri)

Presma Dilaporkan ke Polisi, Mahasiswa Unsri Ancam Demo Besar-besaran

demo mahasiswa unsri

demo mahasiswa unsri

Serangkaian aksi massa yang dilakukan oleh mahasiswa Universitas Sriwijaya akhir-akhir ini berbuntut pada penonaktifan tiga akun akademik mahasiswanya. Ketiga nama tersebut adalah Rahmat Farizal (Presiden Mahasiswa Unsri), Aditia Arief Laksana (Ketua Umum KAMMI Al Aqsho Unsri), dan Ones Sinus (Ketua Umum GMNI Unsri). Ketiga mahasiswa ini merupakan para pimpinan aksi yang menuntut penurunan biaya UKT bagi mahasiswa semester 9.

Bahkan Rahmat Farizal juga dilaporkan oleh pihak kampus ke polisi. Dari surat yang beredar di media sosial, Rahmat Farizal juga diancam drop out dari kampus. Dalam surat yang ditandatangani oleh Wakil Rektor I Bidang Akademik Zainudin Nawawi tertanggal 1 Agustus 2017 tersebut dikatakan bahwa Rahmat Farizal melakukan tindakan dan perbuatan yang mengorganisir kegiatan demonstrasi dengan cara penyampaian dan materi yang mengandung unsur-unsur seperti pengujaran kebencian terhadap rektor, mengancam untuk membakar aset negara, mempermalukan Rektor dan Senat Unsri dalam acara resmi dan melakukan pelanggaran hukum/undang-undang dan etika.

Akan tetapi semua itu dibantah oleh Rahmat Farizal. Dia mengatakan bahwa apa yang disampaikan oleh pihak kampus hanya mengada-ada saja. Bahkan, aksi yang dilakukan berjalan dengan damai.

Sementara itu, Agus selaku Menteri Politik BEM Unsri mempertanyakan tindakan yang dilakukan oleh pihak rektorat Unsri.

“Adakah yang salah dengan menyampaikan pendapat di muka umum? Bukankah kita tinggal di negara yang katanya menjunjung tinggi demokrasi?” kata Agus, Rabu (2/8).

Menurutnya, kebebasan dalam penyampaian pendapat di depan umum dilindungi oleh undang-undang dan merupakan representasi dari negara yg menerapkan sistem demokrasi. Sesuai dengan Pasal 28 UUD 1945 yaitu Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang. Dia menambahkan kalau peraturan yang tertulis sepertinya hanyalah hitam diatas putih bagi Rektorat Unsri.

Agus menegaskan kalau pihaknya akan terus berupaya dan mendesak pihak rektorat memenuhi tuntutan mahasiswa. Dia juga meminta rektorat mengembalikan status tiga mahasiswa yang dinonaktifkan. Bahkan, dia mengancam akan menggerakan massa yang lebih besar jika tuntutan tidak dipenuhi.

Sumber: SeputarMusi.com